- Isi Kekosongan Jabatan, 29 Kepala Sekolah SD dan SMP di Purworejo Resmi Dilantik dan Dikukuhkan
- Dindikbud Purworejo Gelar Rapat Koordinasi Kebijakan WFA Guru Saat Libur Semester, Langkah Implementasi Segera Dimatangkan
- Kegiatan Fun Game Meriahkan Classmeeting SDN Lubanglor
- Bukan Sekedar Ritual, Jamasan Tosan Aji dan Wayangan Jadi Identitas Masyarakat Bagelen
- Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Purworejo Gelar PKG BK Diseminasi, Perkuat Kompetensi Guru BK melalui 7 Jurus BK Hebat
- Seleksi Substansi Bakal Calon Kepala Sekolah di Purworejo Berjalan Lancar
- Peluang WFA bagi Guru ASN Mulai Dikaji, Disdikbud Purworejo Lakukan Koordinasi Lintas Instansi
- PERTEMUAN DISKUSI SIMPEN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PENDIDIKAN DINDIKBUD DENGAN TIM FAK GEOGRAFI UGM YOGYAKARTA
- TEATER PELAJAR TAMPILKAN KARYA SUMANANG TIRTA SUDJANA DI FESTIVAL TEATER PELAJAR KABUPATEN PURWOREJO
- Monitoring Kemiskinan Ekstrem pada desa yang menjadi Desa Binaan Dindikbud
Tuntaskan melek huruf bersama Madyo Pitutur
buta aksara

Program pengentasan buta huruf atau peningkatan melek huruf di Kabupaten Purworejo pada tahun 2019 ini cukup terasa di masyarakat. Salah satu kegiatanya adalah Pendampingan Multi keaksaraan yang dikelola langsung oleh UPT SPNF Kabupaten Purworejo bersama Desa yang menjadi sasaran kegiatan ini.
Salah satu kegiatan multi keaksaraan ini dilaksanakan di Desa Kedungpucang Kecamatan Bener. Pada sejatinya kegiatan ini untuk mengenalkan calistung akan tetapi kegiatan di Desa ini disisipi juga kegiatan kesenian Madyo Pitutur. Dengan menggabungkan kegiatan kesenian tersebut merupakan langkah baik sebagai upaya menjaga melestarikan budaya lokal desa kedung pucang. Kesenian madyo pitutur merupakan salah satu kegiatan budaya lokal yang mengedepankan olahan tata bicara bahasa daerah. Pelestarian budaya daerah saat ini sedang digiatkan oleh kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dalam upaya menjaga kekayaan bangsa.
Kegiatan multi keaksaraan yang ada di Desa Kedungpucang Kecamatan Bener ini diikuti sebanyak 30 orang warga belajar. Yang menjadi unik daftar peserta warga belajar tersebut usianya rata-rata di atas 50 tahun bahkan ada yang berusia 70 tahun. Tentu hal ini menjadikan kita tertegun betapa semangatnya mereka untuk mendapatkan ilmu baik dalam belajar maupun menari dan menyanyi melalui kesenian Madyo Pitutur.
