- Dindikbud Purworejo Gelar Diklat Fasilitator Sekolah untuk Optimalkan Pemanfaatan IFP dalam Pembelajaran Digital
- Para atlit dari Purworejo mampu meraih Kejuaran di Tingkat Provinsi Jawa Tengah
- SMP NEGERI 32 DAN SMP NEGERI 34 PURWOREJO TAMPIL DI PEMBUKAAN FESTIVAL LAYANG-LAYANG PANTAI KETAWANG
- Ka Dindikbud himbau Pentingnya koordinasi dan komunikasi antar semua pegawai
- DINDIKBUD Purworejo Ikuti Sidang Penetapan Warisan Budaya Takbenda (WBTb) 2026, Ajukan Wayang Gagrak Bagelenan, Clorot, dan Sega Penek Ngandul
- Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purworejo Laksanakan Konsultasi dan Koordinasi Persiapan Pelaksanaan Diklat Bakal Calon Kepala Sekolah Tahun 2026
- PENYERAHAN SK MUTASI PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN DI LINGKUNGAN DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN KABUPATEN PURWOREJO
- Cetak Pembina Tersertifikasi, Kwartir Ranting Purwodadi Sukses Gelar Kursus Mahir Lanjutan 2026
- Isi Kekosongan Jabatan, 29 Kepala Sekolah SD dan SMP di Purworejo Resmi Dilantik dan Dikukuhkan
- Dindikbud Purworejo Gelar Rapat Koordinasi Kebijakan WFA Guru Saat Libur Semester, Langkah Implementasi Segera Dimatangkan
SD Negeri Girirejo Ikut Lestarikan Lingkungan Lewat Penyu

Ada kegiatan unik yang dilakukan SD Negeri Girirejo Kecamatan Ngombol untuk peyelenggaraan P5 dengan tema Gaya Hidup Berkelanjutan topik Pelestarian Lingkungan yang dilaksanakan pada hari Senin, 21 April 2025.
Kegiatan outing class dengan melepaskan Tukik (anak penyu) ke laut. Kegiatan ini sudah dua kali dilaksanakan oleh SD Negeri Girirejo. Namun kali ini dihadiri Pendamping Satuan Pendidikan, Kepala Satuan Pendidikan, Perwakilan Guru SD Negeri Girirejo. Kegiatan ini berkolaborasi dengan Penangkaran Penyu Wana Tirta, desa Pasir Mendit yang dikelola oleh bapak Warso Suwito.
Sebelum melakukan pelepasan tukik, Pak Warso memberikan edukasi kepada para siswa yang mengikuti kegiatan ini yaitu kelas III, IV dan V. Beliau menjelaskan, telur penyu yang ditangkarkan didapat dari para nelayan yang menemukan sarang di sekitar pantai selatan. Telur penyu ditangkarkan selama 50-60 hari hingga menetas. Setelah menetas, tukik harus dikarantina selama dua minggu sampai cukup kuat hingga bisa dilepasliarkan ke laut.
Lebih lanjut Pak Warso berpesan kepada para siswa, apabila menemukan telur penyu di pantai agar dibawa atau diserahkan ke penangkaran untuk dirawat dan ditetaskan. Mengingat penyu adalah salah satu hewan yang dilindungi dan juga terancam punah.
Setelah itu para siswa diajari cara melepaskan penyu. Yaitu kepala tukik menghadap ke daratan dan membiarakan tukik berbalik dan berjalan sendiri menuju ke laut. Hal itu bertujuan supaya tukik dapat merekam pesisir dan agar kelak ketika mereka bertelur akan kembali ke daratan tempat di mana mereka menetas.
Para siswa terlihat antusias dan senang ketika melepaskan tukik. Mereka juga bersorak memberikan semangat kepada tukik agar segera mencapai air dan berjuang di laut lepas.
Semoga dengan kegiatan melepas tukik dapat menumbuhkan sikap kepedulian siswa terhadap kelestarian lingkungan.
